Bukankah tak pernah ada rasa yang
salah, bukankah cinta yang hadir di hidupnya tanpa mengetuk pintu lebih dulu. Apa Ara salah kalau Ara telat menyadari bahwa sebenarnya di mencintainya, bukan membencinya seperti yang dikatakan Ara pada Ega dulu. Dilihat dalam posisi itu, mungkin Ara memang melakukan salah, dia khilaf telah mengatakan kalau dia tak menyukai Ega. Tapi sekarang, apakah ada kata maaf dari Ega buat Ara??
Dimana ada aktivitas, pasti timbul cerita yang bisa dirangkai, mengalir tenang tanpa ada yang menyadari aktivitas itu adalah drama yang bisa dimainkan, drama yang bisa menyimpan sebuah misteri kehidupan. Drama di kehidupan Ara begitu sunyi tanpa kehadiran Ega. Ara masih mengingat dengan sangat jelas semua masa-masa dengan Ega, apalagi ketika Ara bersamanya saat hujan turun rintik-rintik. Kini Ara terbawa dalam putaran angin memori terindah bersamanya.
Ketika putaran angin kenangan tak berhembus, Ara terjatuh di antara tebing-tebing kesunyian. Karena Ega menghilang tak
berbekas.
Memang benar, Ara tak pernah sadar bahwa ternyata sosoknya perlahan menyusup dalam lubang terdalam di hatinya, mengobati luka yang telah tercipta. Dahulu Ara tak ingin menyerahkan kunci hatinya pada siapapun, namun dia terlambat. Ara telah menjatuhkan kunci itu untuk Ega, sekarang Ega telah pergi menyisakan puing-puing kerinduan.
Ara ingin marah, melampiaskan semua kekesalannya karena Ega. Tapi apa Ega tau??, Ara memang ingin melakukan itu, tapi Ara tak pernah bisa, Ara begitu sulit membenci Ega, karena dia begitu mencintainya. Kini yang tersisa hanya kekecewaan Ara, keputusasaannya menanti hadirnya Ega. Ara ingin meminta maaf beribu maaf, karena Ara baru menyadari rasa ini, rasa cintanya pada Ega.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar